Kerinduan
membawaku memimpikanmu selama tiga hari berturut-turut. Kamu mengajakku ke toko
swalayan untuk memilih piyama berwarna biru kesukaanku. Kamu mengantarku ke
tempat ibadah dan mengajariku cara bersembahyang untuk pertama kalinya. Kamu
mengawasiku bermain di ruang tengah dan sesekali ikut bergabung. Masih banyak
lagi dan satu yang pasti: dalam mimpi itu, kamu tidak pergi dan masih di sini.
Sumber: We Heart It |
Kupikir
aku akan punya hobi baru: tidur. Sebab dengan begitu, aku bisa terus bermimpi karena
hanya di sanalah aku bisa bertemu denganmu dalam sosok utuh dan mendekapmu erat
seperti yang sudah-sudah.
Di dalam mimpi, kamu tidak merasa sakit apalagi mati. Mungkin selama ini kita telah salah. Mimpi bukan bunga tidur yang layu saat bangun, melainkan kehidupan nyata sesungguhnya. Di sana segala berjalan begitu ajaib dan bebas berfantasi. Setiap kemungkinan punya peluang untuk terjadi dan kamu bisa jadi apa serta siapa saja. Berbeda dengan semesta saat ini yang membatasimu lewat aturan-aturan tak kasat mata.
Namun,
pada akhirnya kamu menganggapku hanya bercanda. Bagaimana tidak? Aku tetap
terbangun sepanjang dan selama apa pun aku bermimpi. Lama kemudian aku
menyadari mimpi-mimpi itu hanyalah cara ingatanku merawat kenangan tentangmu
sekaligus mengobati kerinduan yang tersesat karena rumah tempatnya berpulang
sudah pergi.
Tangerang,
12.54 pm – satu hari menuju ulang tahun papa
0 Comments:
Post a Comment