Aku
selalu menyukaimu. Saat yang lain mengatakan padaku untuk tenggelam dalam buai
simfoni malam. Ketika yang lain mendesakku untuk berhenti menantang malam. Di
samping yang lain memintaku untuk tidak mencumbui radio malam. Kau datang;
tidak di sebelahku, tidak juga di depanku, tidak di belakangku. Tidak dimanapun
yang mereka harapkan dekat denganku. Lalu, aku kerap kali bergurau tentang
bagaimana kau muncul dimana-mana. Kau hanya tersenyum simpul dengan penuh jenaka.
Sekali lagi, tanpa kau tahu, kau berhasil menerbitkan seulas senyum kecil di
bibirku. Di sunyinya pertengahan malam. Di heningnya cengrama malam. Di diamnya
tubuh malam. Kita tertawa hingga larut dalam lelap.

Aku
selalu menyukaimu. Dan, apabila kau jawab bisa, maka kau akan tahu satu hal;
ini pendam rasa yang begitu indah yang pernah kutahu. Tak perlu banyak kata
untuk mengurainya. Hanya perlu dua hati yang berani untuk berkata iya. Maka, ia
akan terajut dengan sendirinya. Bukan aku lagi yang harus terus menulis
tentangmu agar tidak terlupa. Bukan kau lagi yang harus bertanya tentangku agar
tidak tersamar. Bukan kita lagi yang harus ragu mencipta janji. Tapi,
sebongkah rasa yang akan berbicara. Tentang kita dan bisik hati yang tak
tersampaikan.
Dan,
dua kata itu berganti …
Aku selalu mencintaimu.
0 Comments:
Post a Comment